JANGAN MALU BERBAHASA BANYUMASAN
Akan punahkah Bahasa Jawa dialek Banyumasan seperti bahasa dialek lain di Indonesia yang sudah lebih dulu punah ?
Mudah-mudahan tidak, karena Wong Banyumas dan sekitarnya masih dalam kesehariannya masih menggunakannya, walaupun kadang merasa malu jika berbicara di muka umum apalagi didengar oleh orang dari liar Banyumas khususnya orang Jogya – Solo yang notabene dialeknya lebih halus.
Banyak yang mengangap bahasa Banyumasan itu “ndesani”. Warga Banyumas yang meliputi Kabupaten Banyumas, Cilacap, Purbalingga dan Banjarnegara sudah dikenal si seluruh Indonesia sebagai dialek “ngapak ngapak” yang menjadi bahan tertawaan. Hal ini bisa kita lihat di acara televisi khususnya acara humor, dimana penonton televisi dibuat tertawa setiap muncul dialek Banyumasan. Salah contoh adalah Artis Tukul Arwana yang selalu memunculkan gurauan dialek Banyumas “Balik maning nang laptop, kaya kuwe…..”.
Hal demikian menjadikan saat ini warga Banyumas malu berbahasa dialek Banyumasan, padahal mengandung unsur keunikan sebagai kebanggaan sehingga kita tidak segan menggunakannya sebagai bahasa pengantar sehari-hari baik dalam pertemuan formal maupun informal.
Upaya pelestarian bahasa Jawa dialek Banyumasan bukan hanya tanggung jawab Dinas Pendidikan atau Dinas Kebudayaan dan Pariwisata saja, yang salah satu tupoksinya adalah pelestartian budaya Banyumasan, tetapi merupakan tanggung jawab semua orang Banyumas.
Untuk mecapai hasil yang optimal dalam melestarikannya, memerlukan dukungan politis, bahkan mungkin lewat surat Edaran Bupati atau Surat Keputusan Bupati Banyumas yang intinya upaya pelestarian penggunaan bahasa Jawa dialek Banyumasan di semua tingkatan, mulai dari tingkat RT-RW, selapanan Desa/Kelurahan, pertemuan tingkat Kecamatan dan tingkat Kabupaten untuk dihimbau menggunakan bahasa Jawa dialek Banyumasan pada kesempatan pertemuan, atau dianjurkan dalam sebulan ada pekan ngomong banyumasan bagi Warga Banyumas.
Bagi warga Banyumas pendatang yang berdomisili di banyumas dan belum fasih berbahasa dialek banyumasan, tidak ada sanksi jika belum dapat berdialek banyumaan dengan baik dan benar. Kenyatannya di masyarakat sudah banyak para pendatang yang mulai belajar dan menyesuaikan diri dengan menggunakan bahasa banyumasan.
Sebetulnya dialek Banyumasan tidak jauh berbeda dengan bahasa tetanga seperti Sunda, Jogyo, Solo, Jawa Timur dan Madura. Yang berbeda prinsipnya hanya dialeknya saja, sehingga bahasa kita masih bisa dipahami oleh mereka. Jika ada perbedaan arti, prosentasenya sangat kecil.
Kita kagum pada suku bangsda lain di Indonesia yang tetap konsisten dan tidak malu-malu mengunakan bahasa ibu seperti orang Sunda, Batak, Madura, Bugis, Minang dan sebagainya yang dengan bangganya menggunakan bahasanya sendiri.
Jika Pemerintah Kabupaten Banyumas mempunyai misi untuk melestarikan budaya Banyumasan, tentunya termasuk dialek bahasa banyumasan. Para pendidik juga harus belajar dan menggali lebih banyak lagi pengetahuan tentang Banyumas baik budaya, sejarah, serta tradisi Wong Banyumas.
Dinas Kebudayan dan Pariwisata Kabupaten Banyumas pernah mengadakan sarasehan untuk mengambil langkah-langkah pelestarian bahasa jawa dialek banyumasan. Bahkan pernah mengusulkan agar di Kabupaten Banyumas segera dibentuk Lembaga atau Badan Pelestari Bahasa Jawa dialek Banyumasan, tetapi kendalanya adalah tidak adanya dukungan politi, morial dan material. Paing tidak Dinbudpar dalam upayanya telah banyak melangkah, misinya mempelopori lomba pidato bahawa jawa dialek banyumasan, memerbitkan brosur-brosur tentang sastra banyumasan dan kegiatan lain yang menjurus pada pelestarian budaya banyumasan.
Kepada Wong Banyumas atau mereka yang selalu mengaku sebagai Wong Banyumas agar tidak malu atau sungkan berbicara mengunakan dialek banyumasan, terutama kepada para generasi muda yang takut dikatakan “ndesani dan katrok” jika berdialek banyumasan.
Contoh kongkrit yang patut ditiru adalah Bapak Bupati Mardjoko, dalam setiap Sambutan/arahannya pada acara rapat beliau lebih banyak mengunakan bahasa dialek Banyumasan daripada harus menggunakan dialeh Bahasa Indonesia. Ini terdengan lebih akrab dan lebih dekat dengan masyarakat/audiannya.
Lebih baik jika mulai sekarang dalam pembuatan spanduk, slogan serta ajakan kepada masyarakat menggunakan bahasa dialek banyumasan. Nampaknya akan lebih mengena dan menarik untuk dibaca daripada mengunakan bahasa Indonesia yang saudah umum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar